IKLAN BERBAYAR

Silakan hubungi kami dengan mengeklik gambar ini!.

Memaknai Hardiknas: Sudahkah Pendidikan Kita Benar-Benar Memerdekakan?

Foto: Ilustrasi/Qalam Madani

Qalam Madani, Pontianak - Hari Pendidikan Nasional setiap tahunnya hadir sebagai momentum refleksi, bukan sekadar seremoni. Di tengah berbagai capaian yang terus digaungkan, muncul pertanyaan yang tak pernah usang: apakah pendidikan Indonesia hari ini sudah benar-benar "memerdekakan", atau masih berjalan dalam proses panjang menuju cita-cita tersebut?

Salah satu persoalan mendasar terletak pada orientasi sistem yang terlalu menekankan hasil akhir dibandingkan proses pembelajaran itu sendiri. Nilai, ranking, dan capaian akademik sering kali dijadikan indikator utama keberhasilan, sementara kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kesiapan menghadapi realitas kehidupan justru belum mendapatkan porsi yang seimbang.

Padahal, esensi pendidikan bukan sekadar menghasilkan angka tinggi di atas kertas, melainkan membentuk individu yang mampu memahami, menganalisis, dan beradaptasi dengan kompleksitas dunia nyata, karena pada kenyataannya tantangan yang dihadapi tidak selalu menuntut jawaban yang pasti, tetapi kemampuan untuk berpikir, menimbang, dan mengambil keputusan. Ketika proses diabaikan, peserta didik cenderung menjadi “penghafal yang patuh” alih-alih “pemikir yang mandiri.”

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah relasi kuasa yang tidak seimbang antara guru dan peserta didik. Dalam banyak situasi, guru masih diposisikan sebagai pihak yang “selalu benar”, sementara peserta didik berada dalam posisi pasif dan penerima. Pola ini secara tidak langsung membangun budaya takut. Takut bertanya, takut berbeda pendapat, bahkan takut berpikir kritis.

Akibatnya, ruang kelas yang seharusnya menjadi ruang dialog justru berubah menjadi ruang satu arah. Peserta didik kehilangan keberanian untuk menyuarakan ide, karena khawatir dianggap salah atau tidak sopan. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka pendidikan tidak lagi menjadi alat pembebasan, melainkan justru alat pembungkaman.

Pandangan ini sejalan dengan hasil wawancara bersama Dr. Hazilina, S.H., M.M., M.Kn., seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak, yang menilai bahwa kondisi pendidikan Indonesia saat ini memang belum dapat dikatakan ideal, meskipun berbagai kemajuan sudah mulai terlihat. Ia mengingatkan kembali pada gagasan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan seharusnya memerdekakan, merangkul semua kalangan, dan membentuk karakter yang kuat, yang hingga kini masih berada dalam proses panjang menuju pencapaiannya.

Melalui filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, Dr. Hazilina mengingatkan peran pendidik tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan, pemberi semangat, sekaligus pendukung yang memberi ruang bagi peserta didik untuk berkembang secara mandiri. Namun dalam praktiknya, ruang tersebut belum sepenuhnya hadir di dalam proses pembelajaran.

"Tut Wuri Handayani bukan sekadar semboyan, tetapi cara pandang yang baik bagi seorang Pendidik kapan harus memimpin, kapan mendampingi dan kapan waktunya untuk memberi ruang agar peserta didik dapat berkembang dan maju," ujarnya.

Foto: Ilustrasi/Qalam Madani

Kesiapan tenaga pendidik juga menjadi faktor penting yang perlu mendapat perhatian serius. Menjadi guru di era sekarang tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga dituntut untuk mampu memahami karakteristik peserta didik yang beragam. Setiap siswa memiliki potensi, gaya belajar, dan latar belakang yang berbeda, yang seharusnya direspons dengan pendekatan yang adaptif dan teknik pengajaran yang variatif.

Pandangan tersebut juga tercermin dalam pernyataan Dr. Hazilina, yang menegaskan "latar belakang dan kemampuan mahasiswa sangat beragam, sehingga tidak dapat disikapi dengan satu pendekatan pembelajaran yang sama untuk semua."

Namun realitanya, tuntutan tersebut belum selalu diimbangi dengan dukungan yang memadai. Kesiapan guru dalam menghadapi dinamika pendidikan masih perlu terus diperkuat, baik melalui pelatihan berkelanjutan maupun sistem yang mendukung pengembangan kompetensi. Tanpa dukungan yang cukup, sulit mengharapkan proses pembelajaran yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. 

Kondisi ini juga tergambar dari apa yang disampaikan oleh Dr. Hazilina, yang menyebutkan bahwa "di daerah seperti Kalimantan Barat, keterbatasan fasilitas, sumber daya manusia, dan teknologi masih menjadi tantangan yang berdampak pada kualitas pendidikan. Hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah beban administratif dosen yang cukup banyak sehingga mengurangi ruang bagi dosen untuk berinovasi dan mendampingi mahasiswa secara optimal."

Lebih jauh, persoalan ini juga berkaitan dengan bagaimana pendidikan ditempatkan dalam prioritas pembangunan nasional. Selama pendidikan belum benar-benar diposisikan sebagai sektor strategis yang utama, maka berbagai permasalahan mendasar akan terus berulang. Salah satunya adalah kesejahteraan tenaga pendidik yang masih belum merata dan memadai.

Padahal, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas dan kesejahteraan guru. Guru yang dihargai secara layak, baik secara ekonomi maupun sosial, akan memiliki ruang yang lebih besar untuk mengembangkan diri dan memberikan pembelajaran yang optimal.

Pada akhirnya, pendidikan tidak cukup hanya berjalan, tetapi juga perlu diarahkan. Tidak sekadar mengejar capaian, tetapi membangun manusia yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak secara sadar dalam menghadapi kehidupan.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada perayaan, melainkan menjadi pengingat bahwa masih ada banyak hal yang perlu dibenahi. Pendidikan yang memerdekakan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, tetapi sesuatu yang harus terus diupayakan melalui sistem yang lebih berpihak, relasi yang lebih setara, dan proses pembelajaran yang lebih manusiawi.


Penulis: Affan

Posting Komentar

0 Komentar