Ketika melangkahkan kaki ke Desa Sungai Itik, benak kami sebagai mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dipenuhi berbagai konsep teoritis seputar modernisasi usaha: digitalisasi transaksi, ekspansi pasar lokapasar (e-commerce), hingga strategi pemasaran media sosial yang masif. Kami berasumsi bahwa tolok ukur utama keberhasilan sebuah usaha mikro adalah menjangkau pasar seluas-luasnya. Namun, seluruh teori tersebut teruji saat kami bertamu ke kediaman Ibu Tahira—yang akrab disapa Ibu Tera—di Jalan Daeng Marwah, RT 01 RW 01 Dusun Mawar, Desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Aroma gurih khas keripik pisang yang baru selesai ditiriskan langsung menyambut kedatangan kami di teras rumahnya. Rumah sederhana berdinding semen yang berdiri dari program bedah rumah itu tampak bersahaja dengan lantai semen yang bersih. Di sanalah Ibu Tera tekun memilah dan menimbang keripik pisang olahannya yang diberi jenama "Aira" ke dalam kemasan standing pouch.
"Bukan tidak mau mempromosikan di Instagram atau Facebook," tutur Ibu Tera tenang sembari mengemas keripik yang renyah. "Sekarang saja langganan sudah lebih dari dua ratus orang. Kalau dipromosikan lewat media sosial lalu pesanan membludak dari mana-mana, modal dan tenaga saya bersama suami tidak akan sanggup menanggungnya. Lebih baik begini, produksinya terukur, kualitas keripik terjaga, dan langganan lama tetap terlayani dengan baik."
Ungkapan bersahaja itu menghadirkan perenungan mendalam bagi kami. Di teras rumah itulah kami menyadari sebuah titik temu berharga: bahwa pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput tidak boleh memaksakan ambisi akademis semata, melainkan harus berpadu selaras dengan daya dukung dan realitas kehidupan pelaku usahanya.
Modal Awal Rp100 Ribu dan Berkah Pohon Pisang Pesisir
Usaha Keripik Pisang Aira—yang namanya dipetik dari putri sulungnya—memiliki rekam jejak panjang. Ibu Tera merintisnya sejak Februari 2018 berbekal tabungan pribadi sebesar Rp100.000 untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga.
Wilayah Sungai Itik Laut memberi berkah tersendiri. Tanah endapan pesisirnya yang subur membuat pohon pisang nipah tumbuh subur dengan tekstur daging buah yang empuk dan gurih secara alami. Alih-alih mendatangkan pisang dari luar daerah, Ibu Tera sepenuhnya memanfaatkan hasil kebun tetangga sekitar.
"Warga di sini banyak yang menanam pisang. Kalau saya perlu bahan, mereka langsung tebang dan antar ke rumah. Jadi saling bantu sesama warga kampung," ungkapnya.
Di masa-masa awal, Ibu Tera menjajakan dagangannya secara door-to-door, berjalan kaki menawarkan keripik dari rumah ke rumah. Ketelitian membuang getah dengan rendaman air garam serta ketegasannya hanya menggunakan minyak goreng kemasan berkualitas membuat cita rasa produknya konsisten diminati. Dari semula kemasan plastik tipis biasa, kini variannya berkembang menjadi enam rasa, mulai dari original, gula susu, balado, hingga karamel.
Menghargai Jejak Masa Lalu dan Menakar Kapasitas Diri
Sebuah momen berkesan terjadi saat kami bermaksud memperbarui tampilan kemasan dengan menyodorkan alternatif desain stiker label baru. Di meja produksinya, kemasan keripik tersebut rupanya telah tertempel rapi stiker berwarna hijau-kuning. Sembari tersenyum sungkan, Ibu Tera menyampaikan penolakannya secara halus.
"Stiker kemasan ini dibuatkan oleh adik-adik mahasiswa KKN tahun 2019 lalu. Desainnya sudah terdaftar di pelatihan dinas dan pelanggan sudah sangat hafal kemasan ini. Sayang kalau diganti lagi," tuturnya lembut.
Penolakan itu justru menumbuhkan rasa hormat kami. Bagi Ibu Tera, stiker tersebut bukan sekadar tempelan kertas, melainkan bukti ikatan emosional dan jejak pengabdian mahasiswa masa lalu yang terus ia rawat dengan setia hingga hari ini.
Melihat kenyataan bahwa seluruh rantai produksi dikerjakan berdua bersama sang suami—mulai dari mengupas, merajang, menggoreng di wajan besar, hingga mengemas—kami lekas memutar haluan pendampingan. Memaksakan lonjakan pesanan daring lewat media sosial berisiko membebani fisik dan ritme hidup beliau.
Bentuk dukungan yang kami berikan akhirnya dialihkan agar proporsional dengan kebutuhannya. Kami memfasilitasi pembuatan banner gerai fisik untuk dipasang di depan rumah sebagai penanda usaha bagi warga dan pelintas jalan, menyusun notulensi tata kelola usaha, serta mendokumentasikan ketekunannya ke dalam karya video dokumenter.
Kearifan di Balik Rasa Cukup
Pada hari biasa, Ibu Tera membatasi produksinya sekitar 50 bungkus per hari—jumlah yang cukup untuk menjamin perputaran ekonomi keluarga sembari tetap memberi ruang bagi peran domestiknya di rumah.
"Dalam usaha, yang terpenting itu kejujuran dan pantang menyerah. Selalu pakai bahan yang bagus, jaga rasa untuk pelanggan, dan jangan putus asa saat ada kendala," tutur Ibu Tera menutup perbincangan.
Dari dapur sederhana Ibu Tera di Dusun Mawar, kami belajar arti penting mendengarkan. Pemberdayaan UMKM bukan semata-mata tentang mendorong usaha kecil berubah menjadi skala industri secara kilat, melainkan tentang menghargai batas kemampuan manusia di dalamnya dan menemukan kearifan rasa cukup yang selaras dengan realitas kehidupan.
Dokumentasi Proker Personal Branding "Keripik Pisang Aira" Di Desa Sungai Itik




0 Komentar