Qalam Madani, Pontianak - Mahasiswa kembali menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRD Kalimantan Barat pada Jumat (23/10/2026) dengan membawa sejumlah tuntutan terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, serta pengusutan kasus pemukulan terhadap peserta aksi.
Aksi tersebut merupakan rangkaian demonstrasi yang telah berlangsung sejak Selasa (20/10/2026), dengan mahasiswa menyuarakan berbagai persoalan regional dan nasional yang dinilai belum mendapat penyelesaian konkret dari pemerintah.
Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Pontianak, Arfan Davista, menilai pemerintah belum mampu menyelesaikan berbagai persoalan di Kalimantan Barat, terutama penanganan Karhutla yang hingga kini masih menjadi sorotan.
“Kita melihat pemerintah gagal dan tidak bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di Kalimantan Barat,” tegas Arfan.
Mahasiswa turut menyoroti penggunaan anggaran sebesar Rp60 miliar yang dinilai belum jelas serta mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan yang diduga melakukan pembakaran hutan dan lahan.
Selain persoalan Karhutla, mahasiswa menuntut evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan pengusutan kasus pemukulan terhadap sejumlah peserta aksi yang terjadi selama rangkaian demonstrasi di DPRD Kalbar pada 20–23 Oktober 2026.
Arfan menjelaskan bahwa Gedung DPRD Kalbar dipilih sebagai lokasi aksi karena lembaga tersebut merupakan representasi rakyat yang berkewajiban meneruskan aspirasi masyarakat kepada pihak eksekutif.
Ia menyebut demonstrasi dilakukan setelah berbagai aspirasi yang sebelumnya disampaikan dinilai tidak mendapat tanggapan dari pemerintah.
Di tengah berlangsungnya aksi pada Jumat (23/10/2026), Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menemui mahasiswa secara langsung di halaman Gedung DPRD Kalbar untuk mendengarkan aspirasi sekaligus memberikan tanggapan terhadap sejumlah persoalan yang mereka sampaikan.
Arfan menegaskan bahwa gerakan mahasiswa akan terus berlanjut hingga tuntutan mereka terpenuhi, sementara langkah selanjutnya akan ditentukan melalui konsolidasi.
“Gerakan ini berlanjut sampai apa yang teman-teman inginkan terwujud,” ujarnya.
Sementara itu, Arfan menyampaikan bahwa mahasiswa Muhammadiyah belum dapat memastikan keterlibatan mereka dalam aksi lanjutan karena mempertimbangkan risiko bentrokan yang terjadi dalam sejumlah demonstrasi sebelumnya.
“Lumayan agak berisiko,” kata Arfan.
0 Komentar